Thursday, 16 June 2016
Beasiswa Hafidz Kampung Inggris
LC Kampung Inggris kembali membuka program beasiswa, kali ini khusus untuk para penghafal Al-Qur'an.
💖 Fasilitas Beasiswa HAFIDZ Kampung Inggris LC :
1) Program 6 kali sehari
2) Asrama English Area
3) Modul
4) Kaos LC Kampung Inggris
5) Tutor Camp di setiap asrama
6) Sertifikat
7) Uang saku 1.000.000 ( khusus bagi penghafal 30 juz)
💖 Ketentuan Beasiswa Hafidz LC Kampung Inggris :
-) Hafal 30 Juz, bebas biaya kursus, fasilitas beasiswa, dan uang saku 1.000.000
-) Hafal 4 juz, bebas biaya kursus dan semua fasilitas beasiswa.
-) Hafal 3 Juz, Diskon 75% biaya paket program + fasilitas beasiswa
-) Hafal 2 Juz, Diskon 50% biaya paket program + fasilitas beasiswa
-) Hal 1 juz, diskon 25% biaya paket program + fasilitas beasiswa
💖 Persyaratan Beasiswa :
1) Mengirim Surat Permohonan beasiswa dan CV lengkap ke email : beasiswa.kampunginggris@gmail.com
2) Lolos Tes hafalan yang dilakukan oleh tim LC
3) Sanggup mematuhi peraturan LC dan Camp
💖 Pelaksanaan Beasiswa :
1) Untuk Kelas beasiswa akan dibuka setiap bulan, periode tanggal 10
2) Kuota setiap bulan adalah 15 orang
📋 Untuk informasi dan pertanyaan bisa langsung menghubungi kotak kami :
Telp : 0354 396561
Sms/ Whatsapp : 08523 111 1117
khusus rombongan : 0822 3313 4545
website : www.kampunginggris.id
#Bantu sebar ya, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan
Asal Mula Aceh
Asal-muasal Aceh penting diangkat sebagai usaha untuk memberi gambaran tentang keberadaan Aceh yang ‘tidak satu’, Aceh dianggap sebagai kekuatan yang akhirnya menguasai Pasai dan Gayo sebagai salah satu daerah vasalnya. Kebenaran Aceh yang tidak satu tercermin dari bnyaknya sub-etnis dan Bahasa yang saat ini masih berkembang dan digunakan di Aceh. Selin Bahasa Aceh terdapat juga Bahasa Gayo, Bahasa Tamiang, Bahasa Alas, Bahasa Jamee, Bahasa Singkil, Bahasa Defayan dan Bahasa sigulai. Umumnya, mereka yang menggunakan Bahasa yang sama akan mendiami wilayah yang sama pula. Begitu banyaknya Bahasa yang berkembang di Aceh membuat Bahasa Aceh sebelum kerajaan Islam berkembang hanya digunakan sebagai Bahasa lisan atau Bahasa tulisan, sedangkan Bahasa Melayu lebih banyak digunakan dalam ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat dari sedikitnya peninggalan sejarah yang di tulis dalam Bahasa Aceh.
Sangat sulit untuk menentukan kapan sebenarnya Aceh berdiri. Selain karna keterbatasan literature juga tidak adanya keseragaman pemahaman dari berbagai inormasi dan literature kapan berdirinya Aceh. Ketidak seragaman pemahaman muncul karena masing-masing penulis memiliki latar belakang yang berbeda tentang Aceh. Asal-mula Aceh dapat digambarkan dari hasil pandagan dan melalui hasil tulisnya.
Anthony reid menulis bahwa Aceh lahir karena dorongan untuk mengadakan perlawanan terhadap Portugis yang telat memiliki markas di Pidie (1521) dan Pasai (1524). Sultan Ali Mughayat Syah mencoba menyatukan berbagai kerajaan yang terletak di pantai timuar untu mengusir portugis yang telah menguasai kedua wilayah tersebut. Keberhasilan penyatuan ini melahirkan apa yang disebut Aceh Besar atau Atjeh Proper atau Groot-Atjeh yang disatukan dengan lembah sungai Aceh.
Nama Mereka Politikus
TIDAK perlu perkenalan karna semua orang tau siapa itu politikus, politikus menggunakan berbagai cara untuk mencapai kemauan diri mereka sendiri, yang memahami siklus roda perputaran sistem di pemerintahan Aceh sekarang adalah para politikus-politikus itu, jadi mereka tau kemana arah yang harus mereka bawak, sangat bijak jikalau mereka membawa Aceh ini lebih maju, tapi sangat di sayangkan jika mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri,
Jikalau kita ingin menjalankan atau ingin mengubah sebuah sistem makan masuklah dalam sistem itu, para politikuslah yang paham akan roda perputaran sistem di Aceh ini, mungkin masyarakat awam hanya melihat bahwa yang memengang setir sistem itu hanyalah pemimpin yang berada di atas panggung, seperti Gubernur, Bupati dll, sangat sedikit masyarakat tau kalau yang menjalankan sistem itu bukan hanya mereka, tapi boleh kita bilang politikuslah yang lebih tau sistem itu bagaimana. Mereka lah yang membawa arah sistem pemerintahan kita sekarang, Yang di maksud sistem ini adalah proses segala hal di Aceh ini yang terkait dalam pemerintahan, seperti mengatur penetapan Kapolda, cara pemilihan Dewan Rakyat, cara wartawan menyampaikan wacana, bagaiaman cara menciptakan suasa baru, itu semua sudah di atur oleh para politikus-politikus itu, jadi mari kita yang bertitel masyarakat biasa untuk juga mengetahui sistem itu walaupun kita bukan politikus, tapi alangkah baiknya kita mengetahui siklus pemeritahan Aceh saat ini. Tapi ingat tidak semua politikus itu jahat, bahkan banyak yang dari mereka mempunyai hati nurani yang ingin sejahtrakan masyarakat.
Jikalau kita ingin menjalankan atau ingin mengubah sebuah sistem makan masuklah dalam sistem itu, para politikuslah yang paham akan roda perputaran sistem di Aceh ini, mungkin masyarakat awam hanya melihat bahwa yang memengang setir sistem itu hanyalah pemimpin yang berada di atas panggung, seperti Gubernur, Bupati dll, sangat sedikit masyarakat tau kalau yang menjalankan sistem itu bukan hanya mereka, tapi boleh kita bilang politikuslah yang lebih tau sistem itu bagaimana. Mereka lah yang membawa arah sistem pemerintahan kita sekarang, Yang di maksud sistem ini adalah proses segala hal di Aceh ini yang terkait dalam pemerintahan, seperti mengatur penetapan Kapolda, cara pemilihan Dewan Rakyat, cara wartawan menyampaikan wacana, bagaiaman cara menciptakan suasa baru, itu semua sudah di atur oleh para politikus-politikus itu, jadi mari kita yang bertitel masyarakat biasa untuk juga mengetahui sistem itu walaupun kita bukan politikus, tapi alangkah baiknya kita mengetahui siklus pemeritahan Aceh saat ini. Tapi ingat tidak semua politikus itu jahat, bahkan banyak yang dari mereka mempunyai hati nurani yang ingin sejahtrakan masyarakat.
Wednesday, 15 June 2016
Sumbangan Rakyat Aceh Yang Terlupakan RI-001
Pada waktu rakyat Aceh mendengar kabar bahwa Indonesia sudah di proklamasikan, hal yang paling ditunggu-tunggu rakyat Aceh adalah memberlakukan syariat islam di tanah Aceh, oleh karna itulah kemerdekaan 17 Agustus 1945 di sambut dengan semangat jihad yang meluap-luap.
Lantas setelah itu pihak belanda kembali lagi ke indonesia untuk merebut lagi Indonesia dan ketika hampir seluruh Indonesia diduduki Belanda kembali, tinggallah daerah Aceh yang tidak di duduki, dari sinilah awal mula semua cerita bagimana keistimewaan Aceh terhadap pemerintahan pusat.
Setelah itu sangat banyak hal yang di seumbang rakyat Aceh untuk pemerintahan pusat, salah satunya sumbangan yang tidak ada taranya bagi perjuangan Republik Indonesia, sebagaimana yang telah diketahui, yaitu pembelian dua pesawat terbang. Orang-orang akan terharu apabila mendengar kisah pengumpulan dana untuk pembelian pesawat ini. Pada tanggal 16 juni 1948 Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh beliau hanya berucap "alangkah baiknya jikalau Indoensia mempunyai kapal udara untuk memperkuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau". Beberapa jam kemudia GASIDA ( Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh) mengadakan perembukan bahkan dalam dua hari saja telah berkumpul dollar yang cukup untuk pembeliab dua buah pesawat udara.
Untuk keperluan pembelian pesawat, pada tanggal 1 Agustus 1948 Muhd. Juned Yusuf, ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh, ditemani oleh beberapa orang anggota panitia Dana Dakota segera berangkat ke Singapura dengan membawa uang dan emas sebanyak 5 kg, yang kemudian diserahkan kepada ketua komisi pembelian pesawat yaitu Opsir udara II Wiweko. Sebuah pesawat Dahkota yang telah berhasil dibeli dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan lamanya diterbangkan ke tanah air pada bulan Oktober 1948.
Pesawat tersebut kemudian diberi nomor registrasi RI-001 sebagai nomor pesawat yang disediakan khusus VIP. Sebagai penghargaan kepada rakyat Aceh, maka peswat tersebut diberi nama "SEULAWAH" yang berarti Gunung Emas.
Tuesday, 14 June 2016
Batu Nisan Po Meurah dan Bintara gigieng Lambada Lhok
disususn oleh : Reza Fahlevi
Batu nisann polos tidak berhias, umumnya mengikuti rancangan bentuk
potongan batu nisan prototype ‘Batu Pasai’, yaitu suatu rancangan bentuk papan
batu atau hampir serupa balok batu serupa iwan atau bentuk ‘pintu gerbang’
dengan lengkung bergaya Persia Islam. Rancangan bentuk iwan tersebut sering
dipertegas dengan panil dari goresan sederhana, sehingga menjadi bingkai berbentuk
‘pintu’. Iwan sangat dikenal dalam rancangan seni bangunan atau arsitektural
dunia Islam khususnya dalam kebudayaan Persia Islam. Rancangan batu nisann
jenis ini persebarannya sangat luas di Aceh dan menjadi tradisi batu nisann
masa Samudera Pasai. Batu nisann seperti ini biasanya digunakan sebagai penanda
bagian kaki makam, walaupun beberapa makam juga ditandai dengan batu nisan ini
baik untuk penanda bagian kepala dan kaki makam.[1]
Bintara adalah gelar dari kerajaan yang menguasai wilayah perdangangan
pangkat bintara lebih tinggi dari Ulee Balang. Gigieng nama tempat perdangan
tersebut kata Gigieng berasal dari Bahasa India yang berarti “perdangangan”.
Bintara Gigieng adalah seseorang yang menguasai tempat perdangangan tersebut
dan mereka tangan kanan dari raja dan kekuasaan mereka lebih besar dari Ulee
Balang, Bintara Gigieng ini berkisar pada masa kerajaan Iskandar Muda tepatnya
berkisar pada tahun 1607-1636 Masehi[2]. Dan
cerita ini juga dikuatkan oleh Bang Wan beliau adalah salah satu warga desa
Lambada Lhok yang juga mengatakan bahwa”Bintara Gigieng merupakan pahlawan pada
masa Sultan Iskandar Muda dan sangat denkat dengan Iskandar Muda ketika itu
sehingga Raja Iskadar Muda sangat sering datang ke Kuala Gigieng tersebut[3].
Referensi yang berbada dari
Taufit beliau salah satu pencinta sejarah dan sangat sering bertanyak kepada
orang-orang yang lebih tua, beliau mengatakan “Kuala Gigieng ini adalah salah
satu tempat pertahanan pertempuran Aceh dahulu dan penjaganya digelar dengan
Bintara, sedangkan Gigieng adalah teluk lalu lalang kapal-kapal atau sebuah
Benteng pertahanan yang di awasi langsung oleh Laksamana Malahayati sehingga
terjalin persaudaran antara Bintara Gigieng dan Indrapatra yang bertepatan di
Desa ladong Kec. Baitussalam. Kuala Gigieng ini adalah wilayah tritorial
Malahayati dan juga markas pertahanan melawan belanda, Bintara Gigieng
merupakan salah satu penguasa didaerah itu.
Adapun batu nisann Bintara Gigieng salah satu batu nisan bercorak
dari Gujarat dan bisa saja batu nisan itu dilukis disana atau bahan menatah
saja yang di bawa dari sana[4].
Mifatah juga mengatakan bahwa corak batu nisan yang berada di Bintara Gigieng
itu berasal dari Gujarat makanya orang dalam Bahasa Aceh batun nisan di sebut
“Bate Jeurat” ini salah satu fakta bahwa banyak batu nisan di Aceh ini berasal
dari Gujarat dan India[5].
Cek Wadi begitu nama sapaannya juga menegaskan bahwa batu nisan
yang berada disekitar pesisir Lambada Lhok ini merupakan batu nisan Gujarat dan
Arab beliau juga menceritakan sedikit mengenai Bintara Gigieng beliau berkata
“saya tidak tahu banyak mengenai Bintara Gigieng tapi yang saya dengar-dengar
bahwa Bintara Gigieng ini merupakan ulama sebelum masa Sultan Iskadar Muda dan
saya juga mersa bimbang dengan hal ini dikarnakan memang orang tua dulu juga
tidak banyak membahas soal makam Bintara Gigieng ini sehingga sangat minim
cerita yang saya dapat[6].
Yahwa Kasem mengakatakan bahwa Bintara Gigieng ini merupakan
seorang pahlawan perang Aceh dahulu ketika melawan Belanda beliau adalah
pejuang dan syahid disitu sehingga dikebumikan di situ bersama
pengawal-pengawalnya.[7]
Mak Ni juga mengulas hal yang sama seperti Yahwa Kasem bahwa
Bintara Gigieng syahid disitu sehingga dikebumikan dikawasan itu[8].
Bintara Gigieng merupakan ulama sesudah kerajaan Sultan Iskadar
Muda dan beliau mengharamkan untuk sekolah dan beliau menerangkat bahwa tidak
boleh ada yang teliti tentang makam tersebut dikarnakan bukan urusan dunia dan
beliau benci makam itu dikaitkan dengan sekolah[9].
|
Batu nisan Po
Meurah, sudah terjatuh di hempas Tsunami Aceh.
|
|
Salah satu batu nisan Po Meurah yang di bawa sekitar 100
meter dari kuburnya.
|
Jauh dari makam Bintara Gigieng tepatnya sekitar 500 meter ke
Selatan terdapat sebuah batu nisann yang sangat indah berukir-ukir. Po Meurah nama pemilik batu
nisan indah tersebut, pada tahun 2004 ketika pesisir Aceh diterjang tsunami ini
sangat mempengahuri teliti saya karna sangat banyak batu nisann yang bertebaran
dan hilang. Dari sini saya bergerak dan juga meneliti makam Po Meurah.
Kubu Nek Meurah atau lebih dikenal dengan sapaan Po Meurah berasal
dari Perelak, Meurah sendiri berasal dari Bahasa India yang berarti “Gajah”
konon Po Meurah ini anak dari raja Perelak yang ketika masa perlawanan dengan
orang Hindu dan Budha, Po Meurah ini diasingkan ke hutan oleh ayahnya
dikarnakan jangan dibunuh oleh orang Hindu dan Budha, Po Meurah diasuh oleh
gajah sehingga kekuatannya juga seperti gajah. Po Meurah anak dari raja Perelak
yang bernama Bandar Khalifah beliau berasal dari Arab dan melakukan perlawanan
dengan Hindu dan Budha.
Akan tetapi batu nisan tersebut diletakkan jauh sesudah beliau
meninggal tetapnya pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda[10].
Yahwa Kasem dan Mak Ni menceritakan bahwa sebelum Lambada Lhok ini
menjadi sebuah desa Kuala Gigieng itu lebih terkenal karna disitu pusat
perdangangan yang sangat besar sangat banyak bangsa asing yang datang ke Gigieng
untuk melakuakn transaksi jual beli, disini juga terdapat orang-orang yang
menjual emas dan memiliki gudang emas. Bukti lain beliau juga menegaskan
banyaknya warga yang menemukan Dirhan emas ditepi pantai Lambada Lhok sekarang.
Saya bertanya siapa yang berkerja disitu, beliau menjawab “dulu sebelum ada
kelompok yang bermana Kleng yang berarti “Hitam gelap” orang-orang Kleng ini
yang berkerja dan ini juga dibuktikan dengan masih ada orang-orang berkulit
hitam di Lambada Lhok dan juga dinamakan dengan kawasan “Juroeng Kleng” Gang
orang-orang Hitam”.
Yahwa kasem juga mengatakan di tengah-tengah kolam ikan yang ada di
Lambada Lhok sekarang terdapat gudang emas yang sampai sekarang belum ada yang
menemukannya, gudang emas ini seperti bongkahan-bongkahan emas dan
pedang-pedang, persis yang ditemukan di Gampong Pande[11].
Miftah juga berkata “dulu disitu terdapat Kuta atau benteng yang
sangat banyak pengujungnya dikarenakan juga disitu pusat perdangangan, Kuala
Gigieng juga merupakan tempat transaksi besar dan ada juga orang yang mengambil
pajak yang disebut dengan Syah Bandar (orang pengambil pajak) nama Syah Bandar
ketika itu adalah Teuku Yusof Adam dengan gelar (Lahuda Jambi) Lahuda orang
yang memiliki kapal-kapal atau bahtera.
Sebelum ada desa Lambada Lhok kawasan itu lebih dikenal dengan
Gigieng disitu terdapat benteng atau kuta yang dikuasai oleh pasukan Kleng dan
mereka memiliki markas disitu, konon mereka juga ingin menguasai pesisir laut
Indrapatra, mereka menyerang lalu mereka kalah dan lari ke berbagai daerah,
sehingga di Sigli juga terdapat nama Gigieng ini berasal dari orang Kleng yang
lari pertempuran melawan benteng Indrapatra[12].
Maka dari sinilah Po Meurah tinggal di Kuala Gigieng dikarnakan
pusat dan markas perdangangan, sehingga beliau disitu dan dikenang oleh warga
sekitar. Cerita ini tidak banyak orang yang tau dikarnakan minimnya cerita
orang dulu dan tidak ada yang menulis.
|
Pecahan kecil
piring-pirang dan mangkok yang saya temukan dipesisir pantai Lambada Lhok,
perkiraan saya disinilah jalur perdangangan Kuta Gigieng.
|
|
Proses
pengangkatan batu nisan Po Meurah yang terjatuh di hantam Tsunami Aceh.
|
Daftar Pustaka
Balai Pelestarian Cagar Budaya Banda
Aceh Wilayah Kerja Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, ‘Arabesk’, Seri Informasi
kepurbakalaan, Nomor 1 Edisi 19 Januari – Juni 2014
Bang Wan, salah satu warga Lambada Lhok.
Taufit, pecinta sejarah Lambada Lhok.
Miftahuddin Cut Adek, Sekretaris Panglima Laot Aceh
Cek Wadi salah satu warga Lambada Lhok.
Yahwa kasem, salah satu orang tua di Lambada Lhok.
Mak Ni, warga Lambada Lhok sekaligus istri Yahwa Kasem
Bang Mat Nu, salah satu penduduk daerah Lambada Lhok.
http://www.plengdut.com/2012/10/batu-nisan-kaligrafi-dan-seni-pahat.html
[1]
Seri Informasi kepurbakalaan, Arabesk, Balai Pelestarian cagar Budaya Banda
Aceh. Hal 8
[2]
Miftahuddin Cut Adek, Sekretaris Panglima Laot Aceh.
[3]
Bang Wan, salah satu warga Lambada Lhok.
[4]
Taufit, pecinta sejarah Lambada Lhok.
[5]
Miftahuddin Cut Adek, Sekretaris Panglima Laot Aceh
[6]
Cek Wadi salah satu warga Lambada Lhok.
[7]
Yahwa kasem, salah satu orang tua di Lambada Lhok.
[8]
Mak Ni, warga Lambada Lhok sekaligus istri Yahwa Kasem
[9]
Bang Mat Nu, salah satu penduduk daerah Lambada Lhok.
[10]
Miftahuddin Cut Adek, Sekretaris Panglima Laot Aceh
[11]
Yahwa Kasem dan Mak Ni, warga Lambada Lhok.
[12]
Miftahuddin Cut Adek, Sekretaris Panglima Laot Aceh
Monday, 13 June 2016
Seramoe Mekkah Yang Berubah
Fenomena gempa bumi dan Tsunami yang menimpa pesisir Aceh tanggal 26 Desember 2004 lalu bukan hanya mengakibatkan kehilangan ratusan ribu jiwa manusia dan kerusakan bangunan fisik yang luar biasa, tetapi juga kian menambah berat penderitaan rakyat Aceh yang telah di dera oleh persaingan politik dan konflik bersenjata yang berlansung bertahun-tahun. Bahkan kerusakan moral dan etika juga ikut serta.
Setelah tragedi itu, orang luar melihat Aceh dengan penuh rasa kepedulian. Sejenak, orang jakarta melupakan kisah heroisme Aceh yang tidak mau tunduk di bawah kendali pemerintahan pusat. Tapi setelah bencana Tsunami menerpa Aceh, orang Berlomba-lomba mau datang ke Aceh sekedar untuk menanyakan apa yang bisa disumbangkan. Bukan hanya dari jakarta, tetapi juga dari luar negeri.
Setelah itu pula Aceh sudah berda dalam konflik yang cukup lama, maka dari bencana itu Segala upaya pun di percepat guna mencapai perdamaian. Melalui serangkaian pertemuan negosiasi antara pemerintahan RI dengan petinggi GAM di luar negeri, akhirnya lahirlah MoU Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Inilah titil awal sejarah baru Aceh yang damai.
Konon negeri Aceh ini terkenal di nusantara sebagai serambi Mekkah karna banyak faktor yang menyerupai Aceh dengan Mekkah. Lantas pujian itu sekarang kandas di karnakan banyak orang yang menilai Aceh sudah berbeda, Aceh sudah tidak cocok di sebut sebagai seramoe Mekkah lagi, dulu Aceh sangat kental dan fanatik terhadap Syariat islam, lantas sekarang walaupun Syariat di terapkan tapi banyak orang yang tidak peduli terhadap Syariat itu. Ini yang membuat Aceh kehilangan nama mulia itu.
Rakyat Aceh Butuh Pemimpin Yang Pro Terhadap Aceh Merdeka
ACEH - Suhu perpolitikan di Provinsi Aceh mulai menghangat dan mulai bersaing menjelang Pilkada 2017. Sejumlah nama bakal calon Gubernur Aceh bermunculan dan kini ramai diperbincangkan publik di berbagai tempat, maupun dalam masyarakat dan mahasiswa.
Beberapa tokoh yang mencuat dan dinyatakan bakal bersaing merebut kursi Aceh sebagai orang no wahid pada tahun 2017-2022 adalah Irwandi Yusuf, mantan Gubernur Aceh. Berikutnya Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh sekarang yang juga Ketua Umum Partai Aceh, Abdullah Puteh juga sebagai mantan gubernur Aceh, Tarmizi A karim juga bersaing dalam perebutan kursi no satu di Aceh itu.
Namun dari beberapa nama yang muncul sebagai Cagub dan Cawagub maka keterpilihan mereka nantinya juga akan ditentukan oleh jutaan pemilih di Aceh. “Mudah-mudahan kali ini pemilih lebih cerdas dalam menentukan Peminpin Aceh kedepan. Tapi kita sangat berharap yang menjadi pemimpin Aceh kedepa adalah orang yang pro terhadap Aceh merdeka dalam arti kata di sini bukan menuntut Aceh untuk berperang lagi tetapi pro terhadap masyarakat. Kita juga sangat berharap pemimpin kedepan juga mengikuti petuah-petuah Aceh yang dahulu dimana mereka benar-benar berjuang untuk Aceh dan rayak Aceh.
Lantas ketika kita tanyai kepada semua kanidat calon gubernur pasti mereka akan menjawab bahwa mereka lebih memperhatikan rakyat. Nah sekarang kita butuh bukti bukan omong kosong saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)








